Telah sepuluh tahun Marjinal, sebagai sebuah band
hidup di tengah masyarakat, sekaligus dihidupi masyarakat. Sepuluh
tahun, satu dasawarsa, bukan sebuah perjalanan yang mulus dan langsung
lepas landas begitu saja. Masih banyak aral-merintang, jalan penuh
onak-duri, sekaligus terjal berbatu. Kalau mau merunut kembali ke
belakang, membayangkan proses pertama band Marjinal didirikan, dari
sebuah kamar kos-kosan di bilangan Lenteng Agung, Jakarta, dimana kita
bertemu dengan kawan-kawan yang mempunyai kepedulian, kesadaran yang
sama sekaligus gelisah melihat keadaan negeri ini, hanya satu kata yang
terus terngiang: Perubahan!Dari sebuah kamar kos itu, kita merencanakan sebuah perubahan dengan musik yang diciptakan, disamping komik, desain sablon yang dicetak di kaos-kaos. Kita terilhami kenyataan yang luas: kehidupan buruh, tukang ojek, pedagang kaki-lima, tukang getek, orang-orang yang berjubel di Kereta Rel Listrik dari daerah pinggiran menuju Kota, mahasiswa, dan kalau mau disebut satu per satu begitu panjang dan masih panjang lagi … Begitu banyak kenyataan hidup orang-orang yang menjadi sumber ilham bagi kerja dan karya kami.
Awalnya band kami bernama Anti-ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sebuah institusi militer yang menjadi momok, menebar fasisme ala Orde Baru. Lalu kami merubahnya, menjadi Anti-Military, bersamaan dengan berubahnya nama institusi militer di negeri ini. Lalu kami merubah nama, menjadi MARJINAL, sebuah band yang komit dengan ruang bermain di kampung-kampung di seantero Tanah Air.
Mungkin Anda ada yang berselancar dengan internet menemukan band MARJINAL dalam Wikipedia- ensiklopedia gratisan- yang mengkategorikan Marjinal sebagai band Anarcho Punk. Kami sendiri tidak tahu
